Kultum Ramadhan : Mengkaji Puasa Sejati !

Kultum Ramadhan : Mengkaji Puasa Sejati ! – Saudaraku sesama muslim dibulan istimewa ini kita akan kerap kali dijejali dengan ceramah dan tausiyah. Tak hanya di tempat-tempat seperti masjid dan musholah di media masa bahkan di internet banyak kita jumpai qultum yang bagus-bagus. Tinggal kita yang difasilitasi sedemikian rupa semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin dan sebelum-sebelumnya.

Tak ada salahnya jika kita membaca kelanjutan Kultum Ramadhan : Mengkaji Puasa Sejati ! mungkin dengan kajian ini hati kita akan sedikit terbuka amin…

Dikisahkan pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang merupakan salah seorang Ulama’ besar, sedang berpuasa. Menjelang berbuka puasa ketika beliau akan berbuka dengan 2 potong Roti kering, datanglah seorang pengemis kerumah beliau meminta-minta. Imam Ahmad merasa iba (kasihan) dengan seorang pengemis tersebut.

Apa yang dikerjakan oleh Beliau (Imam Ahmad bin Hambal) ?. Nyatanya 2 potong roti kering yang di buat beliau untuk berbuka puasa, dua-duanya diberikan pada sang pengemis itu. Hingga, tak ada makanan tersisa didalam tempat tinggal Imam Ahmad. Lalu beliau berbuka dengan Apa?. Beliau berbuka dengan satu gelas air putih, serta lalu di esok harinya beliau juga Sahur dengan air putih. MasyaAllah.. Sungguh Luar biasa…!

Demikianlah beberapa orang yang puasanya sudah memengaruhi tingkah laku kesehariannya, serta puasa bagaimana yang bakal memengaruhi tingkah laku seseorang Hamba?. Puasa bukanlah sembarang puasa, namun puasa sejati!

Apakah Puasa Sejati ?

Puasa sejati bukanlah seperti yang dipahami oleh banyak kalangan, Bahwa puasa adalah hanya sekedar menahan diri dari Makan dan Minum saja. Puasa itu bukan hanya menahan Lapar, dan Bukan hanya menahan Haus saja. Akan tetapi puasa itu maknanya lebih luas dari itu.

Sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Jabir bin ‘Abdullah r.a., kata beliau : {” Apabila engkau berpuasa hendaklah telinga kamu ikut berpuasa, lisan kamu ikut berpuasa, dan mata kamu ikut berpuasa “}.

Jadi, Jabir bin Abdullah memberikan makna yang sangat dalam dari ibadah Puasa. Ternyata Puasa itu bukan hanya sekedar menahan perut, menahan lapar dalam perut, atau menahan dahaga dari kerongkongan, bukan ! Akan tetapi beliau (Jabir bin Abdullah) menjelaskan bahwasanya Puasa itu adalah juga puasa telinga, puasa itu juga puasa mata, puasa itu juga puasa lisan.

Apa itu Puasa Mata ?.

Puasa mata tentunya adalah puasa menjaga mata ini supaya tidak melihat sesuatu hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Demi mengamalkan Firman Allah SWT :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

{” Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; (sungguh) yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah (Wahai Muhammad) kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, serta janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya “} (QS.An Nuur:30-31).

Jadi di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan kepada kita, bahwa mata ini pergunakanlah untuk sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah SWT.

Maka kita sangat heran dengan perilaku orang yang berpuasa, ketika sore harinya atau bahkan pagi harinya, dan biasanya kata mereka di sore harinya mereka kongkow-kongkow, nongkrong, nga-buburit dan lain-lainnya di jalan-jalan. Pandangan matanya tidak di jaga padahal dia lagi berpuasa. Nah.. terus puasanya itu puasa Apa ?. Apakah puasanya itu hanya sekedar perut saja, Tentu tidak !. Mata juga diperintahkan untuk berpuasa.

Inilah yang di maksud Puasa Sejati ! tidak cukup hanya mata kita saja yang diperintahkan untuk berpuasa. Lisan kita juga diperintahkan untuk berpuasa.

Apa itu Puasa Lisan ?.

Puasa lisan maksudnya adalah menggunakan lisan ini dalam hal-hal yang diridhoi oleh Allah SWT. Kalaupun misalkan tidak bisa mengucapkan kata-kata baik, maka Diamlah ! Sebagaimana kata Nabi Muhammad SAW, bersabda :

{” Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT, dan hari akhir (maka) hendaklah dia berkata baik atau (lebih baik) diam, Barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya “} (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Saudaraku, inilah yang dimaksud puasa, puasa lisan. Sungguh aneh sekali, orang yang berpuasa namun ia masih saja menggunjing orang lain, menebar gosip aib orang lain, dia masih saja suka berbohong kepada orang lain, dan bahkan dia masih saja suka mencaci orang lain. Ini Puasa Gaya Apa ? , ini puasa model apa yang seperti itu ?. Naudzubillah..!

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَ العَمَلَ بِهِ وَ الجَهْلِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَن يَدَعَ طَعامَه وشرابَه

{” Barangsiapa (diantara kalian) tidak meninggalkan perkataan “Dusta”, mengamalkannya dan bersikap bodoh, maka (sungguh) Allah SWT tidak butuh terhadap sikap-nya meninggalkan makan dan minumnya (Allah SWT tidak butuh puasanya) “} (H.R.: Bukhari & Abu Daud).

Sungguh ini adalah peringatan keras dari Rasulullah SAW, bahwa orang yang berpuasa tapi dia masih rajin menggunjing, menebar gosip dusta, dia masih suka mencaci dan menghina orang lain. Maka orang-orang yang seperti ini puasanya tidak dibutuhkan oleh Allah SWT. dan bahkan puasanya tersebut bisa sampek taraf tidak di terima oleh Allah SWT jika dia tidak memenuhi syarat dan rukun puasa tersebut. Naudzubillah..! inilah yang dimaksud puasa Lisan. Terus Puasa Telinga…

Apa itu Puasa Telinga ?.

Puasa Telinga ini tujuannya yaitu kita berupaya tidak untuk memasukkan suatu hal dalam telinga kita, terkecuali suatu hal itu yaitu suatu hal yang baik. Jadi janganlah butuhkan saat kita berpuasa untuk dengarkan Isu-gosip yang umumnya ditayangkan di acara tv, yang umumnya mengulas Aib-aib orang lain, memaparkan aib orang lain, membongkar atau di buka aibnya di hadapan public/orang-orang umum.

Mengapa kita mesti dengarkan itu?. Sungguh janganlah butuhkan saat puasa kita untuk mendengar beberapa hal yg tidak baik. Jadi habiskanlah saat puasa kita untuk mendengar beberapa hal yang baik serta positif misalnya : mendengar bacaan Al-Qur’an, dengarkan ceramah serta pengajian, serta lain seterunya. Berikut yang disebut puasa telinga.

Oleh karenanya, Puasa Sejati yaitu orang yang sudah berpuasa tidak cuma pada perutnya saja, Namun orang yang berpuasa dengan matanya berpuasa, mulutnya berpuasa, dan Telinganya juga berpuasa. Bahkan juga semua Anggota Badannya juga turut berpuasa.

Tersebut Puasa yang hakiki, tersebut Puasa Sejati!. Jadi, Selamat Berpuasa serta berpuasalah yang sejati, jangan pernah puasa ramadhan ini tak memiliki arti yang hakiki. Mudah-mudahan Allah Meridhoi. Aamiin!

Oleh : Ustadz. Abdullah Zaen, MA.
Redaktur : Aminatul Jannah

Kultum Ramadhan : Mengkaji Puasa Sejati ! | andriani | 4.5